Jakarta (Kemenhaj) — Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Tahun 2026 yang menerapkan pendekatan semi militer mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak. Menurutnya, metode semi militer yang diterapkan justru mampu menghadirkan suasana penuh semangat, kegembiraan, serta memperkuat kekompakan antarpeserta diklat.
Hal tersebut disampaikan Wamenhaj saat memberikan arahan pada apel pagi usai kegiatan fun walk di Asrama Haji, Sabtu (17/1/2026). Ia menilai bahwa pendekatan semi militer tidak identik dengan kekakuan, melainkan menjadi sarana efektif dalam membangun disiplin, solidaritas, dan kebersamaan para calon petugas haji.
Wamenhaj menegaskan bahwa para fasilitator dari unsur TNI dan Polri menunjukkan pendekatan yang sangat humanis. Mereka mampu memahami perbedaan kemampuan fisik dan stamina setiap peserta, sehingga pelatihan tetap berjalan optimal tanpa mengesampingkan nilai kemanusiaan. Hal ini sekaligus mematahkan stigma negatif terhadap metode pelatihan semi militer yang selama ini dianggap keras dan tidak fleksibel.
Lebih lanjut, Wamenhaj menekankan bahwa kekompakan dan kedisiplinan yang dibentuk selama diklat merupakan fondasi utama dalam menghadirkan layanan haji yang berkualitas. PPIH sebagai garda terdepan pelayanan haji harus memiliki kesiapan fisik, mental, serta empati yang tinggi karena mereka berinteraksi langsung dengan jemaah dari berbagai latar belakang.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenhaj juga memberi perhatian khusus pada penguatan layanan Haji Ramah Perempuan. Ia mengingatkan bahwa mayoritas jemaah haji Indonesia adalah perempuan, yang memiliki kebutuhan layanan dan ketentuan fiqh ibadah yang berbeda dengan laki-laki. Oleh karena itu, petugas haji dituntut untuk memiliki kepekaan, menjaga privasi, serta memberikan pendampingan yang berperspektif perempuan.
Menurutnya, pelayanan haji yang berkualitas tidak hanya diukur dari kecepatan dan ketepatan layanan, tetapi juga dari empati, keramahan, dan pemahaman terhadap kondisi jemaah. Pendekatan ramah perempuan menjadi bagian penting dari pelayanan humanis yang harus melekat dalam karakter setiap petugas.
Wamenhaj berharap kebiasaan positif yang dibangun selama diklat, seperti disiplin, olahraga rutin, dan semangat melayani, dapat terus dijaga hingga masa tugas di lapangan. Ia menegaskan bahwa perubahan besar dalam penyelenggaraan haji harus dimulai dari perubahan pribadi setiap petugas.
Melalui pembinaan yang menyeluruh ini, Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen mencetak PPIH yang tangguh secara fisik, matang secara mental, serta siap memberikan layanan haji yang inklusif, adil, dan berorientasi pada kepuasan jemaah.-Berita sebelumnya