#9. Menjaga Lisān: Puasa Bicara Negatif

KBIHU Al Manar. Langkah kesembilan menjaga kemabruran haji adalah Menjaga Lisan sebagai Puasa Bicara Negatif

Menjaga Lisan, Puasa Bicara Negatif

Haji mabrur tercermin dari lisan yang terjaga. Diam lebih baik daripada bicara yang menyakitkan.

Lisan adalah anugerah sekaligus ujian. Ia bisa menjadi jembatan pahala atau jurang dosa.

Betapa banyak orang yang merusak amalnya sendiri hanya karena tidak bisa menjaga ucapannya.

Seorang ulama besar, Ibnul Qayyim rahimahullah, mengatakan:

“Tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama dari lisan.”

Allah SWT mengajarkan pentingnya menjaga lisan dalam ibadah haji. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 197, Allah berfirman:

“فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ”

“Maka tidak boleh rafats (ucapan kotor), fusuq (perbuatan dosa), dan jidal (berbantah-bantahan) dalam haji.”

Ketiganya adalah perilaku yang erat kaitannya dengan lisan. Maka, menjaga kemabruran haji berarti menjaga lisan agar tidak menyakiti, memprovokasi, atau menyebar keburukan.

Hadis Nabi Muhammad SAW:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Diam bukanlah kelemahan, tapi bentuk pengendalian diri yang luar biasa di tengah zaman yang ramai dengan keluhan, ghibah, dan caci maki.

Aksi Nyata

Tujuan Aksi ini adalah Melatih kendali diri dan membiasakan lisan hanya untuk hal-hal yang mendatangkan pahala, serta menjauh dari dosa-dosa sosial seperti ghibah, fitnah, dan keluhan yang berlebihan.

Aksi Nyata secara detail adanya

  • Melaksanakan “Hari Bebas Ghibah“, di mana setiap individu bertekad untuk tidak membicarakan keburukan orang lain.
  • Membuat tantangan saling mengingatkan. jika seseorang mulai mengeluh atau bicara negatif, sahabatnya wajib menegur dengan lembut.
  • Memulai grup kecil “penjaga lisan” yang membudayakan zikir, doa, dan perkataan baik dalam keseharian.

Adapun Motivasi Aksi Selanjutnya

Kemabruran haji bukanlah status sesaat, tetapi karakter baru yang dibawa pulang. Menjaga lisan adalah bagian penting dari karakter itu.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya seseorang berkata satu kalimat yang dia anggap ringan, ternyata karena itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari & Muslim)

Maka, mulai hari ini, biasakan bertanya dalam hati sebelum berbicara:

  • Apakah ini benar?
  • Apakah ini baik?
  • Apakah ini perlu?
  • Jika tidak, diam adalah bentuk ibadah.

Haji mabrur bukan hanya di Arafah, tapi juga di rumah kita, di meja kerja, di grup WhatsApp, dan di ruang-ruang obrolan.

#Spiritual #Sosial


Lainnya

Pusat Pengembangan Madrasah dan Sekolah Islam

Scroll to Top