KBIHU Al Manar. Mengenal lebih dekat sejarah Mina. Mina bukan sekadar lembah berbatu di luar kota Mekkah. Ia adalah panggung dari drama kemanusiaan terbesar tentang cinta Nabi Ibrahim kepada Allah yang melampaui rasa cintanya kepada anaknya sendiri.
Setiap musim haji, jutaan manusia berkumpul di sini untuk menapak tilas peristiwa agung itu, melempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan, bermalam sebagai bentuk kepasrahan, dan menyembelih hewan sebagai lambang keikhlasan. Tapi bagaimana sesungguhnya asal-usul dan sejarah Mina?
Sejarah Mina: Geografis dan Asal Usul Nama
a. Geografis Mina
Bayangkan sebuah lembah sempit yang diapit bukit-bukit kering dan berbatu. Di sinilah jutaan manusia dari berbagai bangsa berkumpul hanya dengan satu tujuan: mendekat kepada Allah.
Secara geografis, Mina adalah sebuah lembah sempit yang terletak sekitar 5 km sebelah timur Masjidil Haram, antara Makkah dan Muzdalifah. Dikelilingi oleh perbukitan berbatu, Mina membentang sepanjang 3-4 kilometer dan menjadi lokasi penting dalam puncak pelaksanaan haji, terutama pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Di sinilah tiga jumrah (sughra, wustha, dan kubra) berada..
Kondisinya sangat panas dan kering, namun telah dibangun tenda-tenda ber-AC permanen yang dapat menampung lebih dari 2 juta jamaah selama musim haji.
Di antara tempat-tempat penting lainnya di Mina adalah Masjid al-Khaif, yang disebut-sebut sebagai tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi sebelumnya pernah shalat di sana.
b. Asal-Usul Penamaan Mina
Nama sebuah tempat seringkali menyimpan kisah. Begitu juga dengan Mina, yang namanya ternyata mengandung makna yang sangat simbolik.
Kata “Mina berasal dari akar kata Arab “mana” (منى) yang berarti “mengalir” atau “menumpahkan”.
Dinamakan Mina karena:
- Tempat tumpahan darah hewan kurban pada hari Nahr (10 Dzulhijjah).
- Sebagian ulama juga menyebut Mina karena di tempat itu manusia memperbanyak doa dan harapan (tamanna), sesuai makna lainnya dari “mana”.
- tempat ini, Allah telah menetapkan (امْتِنَان) ujian besar kepada Nabi Ibrahim.
Nama Mina menjadi identik dengan pengorbanan, kepasrahan, dan ketaatan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Sejarah Sosiologis Mina Sebelum Islam
Sebelum wahyu turun kepada Nabi Muhammad saw, Mina bukan tempat kosong. Ia sudah dikenal sebagai lokasi penting dalam tradisi Arab, bahkan sebelum Islam hadir.
a. Mina sebelum Islam
Sebelum masa kenabian, masyarakat Arab Jahiliyah telah menjadikan Mina sebagai lokasi ibadah dan ritual, terutama dalam rangkaian ibadah haji warisan Nabi Ibrahim. Mereka melakukan penyembelihan hewan dan tinggal di Mina sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran Ibrahim, meski praktiknya telah banyak diselewengkan, seperti campur baurnya laki-laki dan perempuan, serta penyimpangan ritual.
Suku Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya menganggap Mina sebagai bagian tak terpisahkan dari musim haji tahunan, sekaligus ajang berkumpul sosial, perdagangan, dan syair.
b. Mina setelah Islam
Ketika Islam datang, Mina tidak dihapuskan dari peta ritual. Ia justru dikembalikan pada ruh aslinya: sebagai tempat ujian, pengorbanan, dan ketaatan total kepada Allah.
Setelah Islam datang, Nabi Muhammad saw memperbaiki tata cara pelaksanaan ibadah haji, termasuk mabit di Mina dan melontar jumrah.
Peristiwa penting di Mina antara lain:
- Rasulullah saw bermalam di Mina setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah.
- Beliau melontar jumrah ‘Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, kemudian menyembelih hewan kurban dan tahallul.
- Rasulullah saw tinggal di Mina selama hari-hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), dan setiap hari melempar ketiga jumrah.
Mina menjadi tempat tazkiyah (penyucian jiwa) yang diwariskan oleh Nabi kepada umatnya.
c. Budaya Jahiliah dan Masa Islam
Pada masa jahiliah, Mina adalah bagian dari “festival tahunan” Arab. Di sana terjadi perdagangan, pertunjukan puisi, dan perjanjian antar suku, namun disertai praktik-praktik syirik.
Setelah Islam datang, Mina mengalami transformasi budaya: dari pusat ritual berhala menjadi pusat kesadaran tauhid. Tradisi melempar batu bukan lagi simbol perang antar suku, tetapi simbol perang melawan nafsu dan setan.
d. Tempat atau Masjid Bersejarah di Mina
Beberapa situs penting di Mina antara lain:
Masjid Al-Khaif: Masjid ini merupakan saksi sejarah khutbah dan shalat Nabi di Mina. Dalam hadits disebutkan, lebih dari 70 nabi pernah shalat di masjid ini. Masjid ini berada di dekat kaki bukit Mina dan masih digunakan hingga kini.
Tiga Jumrah (Ula, Wusta, Aqabah): Tiga titik utama tempat melempar jumrah, yang masing-masing memiliki nilai sejarah berkaitan dengan ujian Nabi Ibrahim dan perlawanan terhadap bisikan setan.
Mina dan Sejarah Hukum Islam
Haji bukan sekadar seremonial. Setiap detailnya diatur dalam syariat dengan ketelitian tinggi, termasuk soal bermalam di Mina dan melontar jumrah.
a. Mina dalam Al Qur’an dan Hadits
Berdasarkan Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 203:
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…”
Maksudnya adalah hari-hari tasyriq di Mina.
Berdasarkan Hadis HR. Muslim:
“Aku berdiam di Mina selama tiga hari untuk melempar jumrah dan mempercepat (dua hari) tidak mengapa, dan menunda (sampai tiga hari) juga tidak mengapa.”
Menunjukkan kelonggaran syariat bagi jamaah.
b. Hukum Mabit menurut 4 Mazhab
Pendapat Mazhab:
- Mazhab Syafi’i dan Hanbali: Mabit di Mina pada malam hari tasyriq hukumnya wajib, jika ditinggalkan tanpa uzur maka wajib membayar dam.
- Mazhab Hanafi: Mabit di Mina adalah wajib, tapi pelanggarannya tidak membatalkan haji.
- Mazhab Maliki: Menganggap mabit sebagai sunnah muakkadah.
c. Nama hari di Mina
1) Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
Sunnah untuk berangkat ke Mina dan bermalam di sana pada hari ini. Nabi Muhammad ﷺ memulai haji dari Mina dan shalat di sana sebelum wukuf ke Arafah.
2) Hari Nahr (10 Dzulhijjah)
Jamaah kembali ke Mina setelah wukuf dan mabit di Muzdalifah untuk:
- Melempar Jumrah Aqabah.
- Menyembelih hewan qurban.
- Mencukur rambut (tahallul).
3) Hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah)
Melempar ketiga jumrah setiap hari (Ula, Wusta, Aqabah).
Wajib bermalam (mabit) di Mina minimal dua malam, boleh tiga bagi yang ingin menyempurnakan.
Berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 203 dan hadits-hadits shahih.
d. Keutamaan Mina
Mina memiliki keutamaan antara lain
- Tempat disyariatkannya pelemparan setan, sebagai simbol pembebasan dari hawa nafsu.
- Lokasi penyembelihan qurban, yang merupakan amal besar dalam Islam.
- Tempat bermalam dan berzikir, termasuk membaca takbir selama hari Tasyrik.
- Di sinilah Allah mengabadikan ketaatan Nabi Ibrahim dan keluarganya, yang menjadi teladan umat manusia.
e. Perkembangan Mina Sekarang
Seiring berkembangnya zaman, Mina pun berubah. Tapi di balik perubahan fisik, ruh dan maknanya tetap sama: tempat mengingat dan mendekat kepada Allah.
Pemerintah Arab Saudi telah melakukan revolusi logistik dan infrastruktur di Mina:
- Menyediakan tenda-tenda ber-AC anti-api.
- Jembatan Jamarat bertingkat untuk memudahkan dan menghindari desak-desakan.
- Sistem pengaturan jadwal lontar jumrah untuk menghindari kepadatan.
- Sistem keamanan, transportasi, dan sanitasi yang terintegrasi, meski tantangan masih tetap ada.
Namun, jumlah jamaah yang sangat besar tetap memerlukan kesabaran kolektif, baik dari jamaah maupun petugas.
Kini, Mina dikenal sebagai kota tenda putih yang modern dan tertib, namun tetap mempertahankan nilai sakral ibadahnya.
Refleksi Kontemporer: Makna Sejarah Mina
Apa makna Mina bagi kita hari ini? Bukan sekadar tempat. Ia adalah simbol perjuangan batin melawan godaan, dan wujud pengorbanan demi kebaikan yang lebih besar.
Di tengah kehidupan yang serba instan dan egoistik, Mina mengajarkan:
- Pengorbanan: Seperti Ibrahim rela “mengorbankan” anaknya demi perintah Allah.
- Kesabaran: Mengantri, menunggu giliran, bertoleransi di tengah jutaan orang.
- Perlawanan terhadap hawa nafsu: Melontar jumrah bukan hanya simbol fisik, tapi spiritual. Setiap batu yang dilempar adalah “syaitan” dalam diri—kesombongan, dengki, syahwat, ambisi dunia.
- Mina juga memberi pelajaran sosial:
- Keberagaman bisa bersatu dalam satu tujuan.
- Disiplin kolektif diperlukan untuk menciptakan keselamatan dan kenyamanan bersama.
Mina mengajarkan bahwa kehidupan ini adalah perjuangan melawan godaan batin dan eksternal. Setiap batu yang dilempar adalah deklarasi bahwa kita menolak bisikan negatif, budaya hedonisme, dan egoisme.
Dalam konteks sosial, Mina menjadi simbol persatuan umat, berjuta manusia dari berbagai bangsa, tanpa status sosial, memakai pakaian seragam, dan melakukan ibadah yang sama. Di tengah perbedaan, Mina menciptakan kesadaran: “Sesungguhnya umat ini satu.”
Mina bukan hanya tempat melempar batu. ia adalah tempat melempar segala keburukan dalam diri, agar pulang dari haji bukan hanya tanpa dosa, tapi juga dengan misi hidup baru. Seperti Ibrahim yang berserah, di Mina kita belajar menyerah, agar akhirnya menang dalam makna kehidupan.
Kesimpulan
Mina adalah monumen abadi dalam perjalanan spiritual umat Islam. Dari sisi sejarah, syariat, hingga kontemplasi sosial dan pribadi, tempat ini mengajarkan bahwa iman adalah perjuangan, dan ketaatan adalah kemenangan. Setiap langkah di Mina adalah pengingat bahwa hidup adalah ujian, dan setiap ujian bisa jadi jalan menuju surga—jika dijalani dengan sabar dan ikhlas.
Pengetahuan Ibadah Haji
- Ka’bah Al-Musyarrafah
- Puncak ujian ketaatan Nabi Ibrahim عليه السلام
- Sejarah Ibadah Haji
- Kesehatan Haji: Syarat Wajib Haji
- Manasik Haji: Rangkaian Ibadah Fisik Ritual Spiritual
- Sejarah Islam: Tempat Bersejarah di Tanah Suci
Berita Terbaru
- Perjalanan Umroh KBIHU Al Manar September 2026
- Pelatihan Manasik Umroh KBIHU Al Manar di Hotel Katulistiwa Jatinangor

- Integrasi Digital Haji Indonesia–Arab Saudi
- Standar Dapur Haji di Makkah Dijaga Ketat demi Kenyamanan Jemaah
- Diklat PPIH Semi Militer Dinilai Humanis, Wamenhaj Tekankan Kekompakan dan Haji Ramah Perempuan
- Pembekalan fisik dan mental jadi kunci, Petugas haji diminta siap hadapi dinamika layanan jemaah haji


