Kisah sebelumnya-Ketika jutaan umat Islam menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, mereka sejatinya sedang menapaktilasi sejarah keimanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan keluarganya. Setiap rangkaian manasik haji bukan sekadar ritual, melainkan simbol dari ketaatan dan pengorbanan yang berakar pada kisah agung Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, ketika Allah menguji keimanan mereka melalui perintah penyembelihan. Peristiwa ini menjadi titik penting yang menegaskan bahwa iman sejati menuntut kepasrahan total kepada kehendak Ilahi.
Kisah penyembelihan Nabi Ismail kemudian diabadikan dalam sejarah ibadah haji melalui praktik kurban, lontar jumrah, dan berbagai ritual lainnya yang sarat makna spiritual. Haji pun menjadi lebih dari sekadar perjalanan fisik menuju Makkah; ia adalah perjalanan batin untuk meneladani keikhlasan, kesabaran, dan tauhid Nabi Ibrahim. Melalui ibadah haji, nilai-nilai pengorbanan tersebut terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi umat Islam.
Kisah Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام saat perintah penyembelihan adalah salah satu cerita paling menggetarkan dalam sejarah kenabian. Kisah ini bukan sekadar tentang pengorbanan, tetapi tentang ketaatan total, keikhlasan, dan cinta sejati kepada Allah.
Nabi Ibrahim عليه السلام dikenal sebagai Khalilullah—kekasih Allah. Setelah bertahun-tahun menanti keturunan, Allah akhirnya menganugerahkan seorang putra, Nabi Ismail عليه السلام, dari istrinya Siti Hajar. Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh, patuh, dan sangat dicintai ayahnya. Namun, di saat cinta itu mencapai puncaknya, Allah menguji Nabi Ibrahim عليه السلام dengan ujian yang sangat berat.
Dalam tidurnya, Nabi Ibrahim عليه السلام bermimpi bahwa ia diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri. Bagi para nabi, mimpi adalah wahyu. Artinya, perintah itu bukan sekadar bunga tidur, melainkan perintah langsung dari Allah. Bayangkan pergolakan batin Nabi Ibrahim عليه السلام : antara cinta seorang ayah dan ketaatan mutlak kepada Tuhan. Namun, keimanannya tidak goyah. Ia memilih taat.
Dengan hati yang penuh kehati-hatian dan kasih sayang, Nabi Ibrahim عليه السلام menyampaikan perintah itu kepada Ismail. Ia tidak memaksa, melainkan berdialog, menunjukkan betapa Islam menjunjung tinggi kesadaran dan keikhlasan. Jawaban Ismail sungguh luar biasa. Ia berkata dengan penuh keteguhan iman, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kata-kata itu menggambarkan keteguhan iman seorang anak yang luar biasa, meski usianya masih muda. Ismail tidak lari, tidak memberontak, tidak pula mengeluh. Ia justru menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Ketika keduanya berserah diri, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail dan mengarahkan pisaunya. Namun, Allah Maha Pengasih. Pisau itu tidak melukai Ismail sedikit pun. Pada saat itulah Allah memanggil Nabi Ibrahim dan menyatakan bahwa ia telah lulus dari ujian besar tersebut. Sebagai gantinya, Allah menurunkan seekor hewan sembelihan dari surga untuk dikurbankan.
Peristiwa ini bukan tentang darah atau daging, melainkan tentang ketaatan dan ketulusan hati. Allah tidak menginginkan nyawa Ismail, tetapi ingin menunjukkan bahwa hamba-Nya benar-benar menempatkan Allah di atas segalanya.
Kisah ini kemudian diabadikan dalam ibadah kurban yang dilakukan umat Islam setiap Iduladha. Setiap tetesan darah kurban adalah simbol ketaatan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail—sebuah pengingat bahwa cinta kepada Allah harus melampaui segalanya.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa iman sejati sering kali diuji melalui hal yang paling kita cintai, dan dari sanalah derajat keimanan seseorang ditinggikan.