Hijrah Nabi Muhammad saw dan Refleksi Jamaah Haji Pendekatan 4 AL

KBIHU Al Manar. Hijrah Nabi Muhammad saw memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam. Khususnya bagi Jamaah Haji dan Umroh yang menapaktilas perjalanan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam.

Jamaah haji mengikuti proses pencarian tempat hijrah dengan mengunjungi kota Thaif dan kota Madinah sebagai tempat hijrah.

|Baca: Ziarah Kota Thaif: Menyusuri Luka dan Harapan Rasulullah saw

Setelah 13 tahun berdakwah di Makkah, tekanan dan penyiksaan terhadap umat Islam semakin keras.

Pada tahun ini, perjanjian Bai’at Aqabah kedua terjadi. Dimana 73 pria dan 2 wanita dari Madinah (Yatsrib) berbai’at kepada Nabi untuk melindunginya seperti mereka melindungi keluarga sendiri.

Setelah itu, Allah menurunkan perintah hijrah.

Banyak ulama menyimpulkan bahwa perintah hijrah turun setelah Bai’at Aqabah Kedua, yaitu saat bulan Dzulhijjah tahun ke-13 kenabian (sekitar Agustus/September 622 M)

1. Hijrah Sahabat

Setelah perintah hijrah, para sahabat mulai hijrah ke Madinah secara bertahap dan diam-diam. Nabi menyuruh mereka pergi terlebih dahulu agar umat Islam punya tempat yang aman di Madinah.

2. Hijrah Nabi Muhammad saw

Sekitar 2–2,5 bulan Perintah hijrah disampaikan setelah Bai’at Aqabah Kedua (Dzulhijjah 13 Kenabian), Nabi hijrah pada 1 Rabiul Awwal tahun ke-14 Kenabian, yang bertepatan dengan 20 September 622 M.

Jadi, Nabi menunggu sekitar 2 bulan lebih sedikit sebelum akhirnya hijrah.

3. Alasan Menunda Hijrah

Nabi Muhammad saw menunda sekitar 2 bulan lebih setelah perintah hijrah turun dengan beberapa alasan

  • Menjaga strategi.
    • Nabi harus memastikan waktu yang tepat dan aman agar hijrah tidak gagal.
  • Menjamin keselamatan sahabat.
    • Nabi memastikan para sahabat sudah sampai lebih dulu dan Madinah siap menyambut.
  • Menunggu izin Allah.
    • Nabi tidak bergerak sembarangan; beliau menunggu wahyu dan petunjuk Allah.
  • Hindari pengawasan Quraisy.
    • Quraisy sangat curiga dan mengawasi gerakan Nabi, sehingga butuh waktu dan strategi.

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah adalah salah satu tonggak sejarah terpenting dalam Islam.

Bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi misi dakwah, peralihan kekuatan umat, dan awal lahirnya masyarakat Islam yang berperadaban.

1. Ancaman Pembunuhan oleh Kaum Quraisy

Kaum Quraisy sepakat membunuh Nabi Muhammad saw secara kolektif. Allah mengabarkan rencana itu melalui Jibril.

Nabi memerintahkan Ali bin Abi Thalib tidur di ranjangnya untuk mengelabui musuh.

2. Malam Hijrah: Menuju Gua Tsur

Pada 1 Rabiul Awwal 13 Sebelum Hijrah, Nabi Muhammad saw keluar malam hari menuju rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq, lalu berdua menuju Gua Tsur di arah selatan Makkah.

Mereka tinggal di gua selama tiga hari, sembari mengatur strategi perjalanan menuju Madinah.

Asma’ binti Abu Bakar menyiapkan bekal dan menyobek selendangnya untuk membungkus makanan (dikenal sebagai Dzatun Nithaqain).

3. Perjalanan Menuju Madinah

Setelah tiga hari, tanggal 4 Rabiul Awwal, Nabi Muhammad saw dan Abu Bakar dibimbing oleh Abdullah bin Uraiqith, seorang non-Muslim yang ahli rute. Mereka menempuh jalan memutar, menghindari jalan utama, melewati gurun dan pesisir.

Sepanjang perjalanan, mereka singgah di berbagai tempat dan bertemu beberapa orang, termasuk:

  • Ummu Ma’bad di Qudaid, yang menceritakan sosok Nabi secara detail.
  • Buraidah Al-Aslami, yang kemudian masuk Islam.

4. Pertemuan dengan Suraqah bin Malik

Suraqah mengejar Nabi demi hadiah dari Quraisy. Namun kudanya terperosok tiga kali. Ia pun sadar ini bukan perjalanan biasa. Nabi menjanjikan gelang Kisra kelak, yang benar terjadi di zaman Umar.

5. Singgah di Quba (12 Rabiul Awwal)

Nabi Muhammad saw sampai kita Quba tanggal 12 Rabiul Awwal. Rasulullah saw singgah selama 4 hari di perkampungan Quba. Di sana beliau membangun Masjid Quba, masjid pertama dalam sejarah Islam, dan mengajarkan Islam kepada penduduk.

6. Shalat Jumat Pertama di Masjid Jum’ah

Pada hari Jumat (16 Rabiul Awwal), Nabi Muhammad saw meninggalkan Quba menuju Madinah.

Dalam perjalanan, beliau dan rombongan berhenti di lembah Wadi Ranuna, sekitar 2 km dari Quba.

Di sanalah Nabi Muhammad saw melaksanakan Shalat Jumat pertama dalam sejarah Islam bersama 100 lebih orang dari kalangan Anshar dan Muhajirin.

Lokasi ini kini dikenal sebagai Masjid Jum’ah, yang masih dapat dikunjungi hingga hari ini di kota Madinah.

Ini adalah tonggak penting, karena mulai saat itu Shalat Jumat menjadi ibadah berjamaah yang dilaksanakan secara rutin dan terbuka dalam masyarakat Islam.

7. Masuk Madinah dan Disambut Penuh Cinta

Nabi Muhammad disambut dengan nasyid legendaris “Thala‘al Badru ‘Alayna”. Unta Nabi berhenti di tanah milik Bani Najjar, yang kemudian menjadi lokasi Masjid Nabawi.

Beliau tinggal sementara di rumah Abu Ayyub Al-Anshari.

Kesimpulan

Perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memakan waktu sekitar 8 hari, dengan jarak kurang lebih 450 km melalui rute yang tidak biasa (rute selatan) demi menghindari kejaran kaum Quraisy.

Memahami kronologi hijrah bukan hanya penting bagi pecinta sejarah, tapi juga bagi jamaah haji dan umrah untuk merenungkan makna hijrah dalam hidup mereka sendiri.

Perjalanan haji dan umrah bukan sekadar ritual fisik, tetapi perjalanan batin menuju transformasi diri. Setelah memahami peristiwa hijrah, jamaah dapat merenungkan perubahan diri dengan pendekatan 4 AL:

1. Ritual

Hijrah sebagai Amal Nyata

Nabi Muhammad saw tidak hanya berdoa, tapi bertindak secara nyata dan terencana.

Masjid Quba dan Masjid Jum’ah menjadi simbol awal ritual berjamaah dalam masyarakat Islam.

Refleksi Ritual

  • Apa amal nyata sepulang dari Tanah Suci? Apakah shalat berjamaah, sedekah, dan kebiasaan ibadah makin konsisten?

“Hijrah bukan sekadar lisan, tapi pergerakan amal yang mencerminkan iman.”

2. Intelektual

Hijrah sebagai Strategi Cerdas

Nabi Muhammad saw menyusun strategi hijrah dengan cermat: memilih waktu, rute, bahkan pemandu non-Muslim.

Shalat Jumat pertama juga menjadi langkah strategis memperkuat komunitas Islam.

Refleksi Intelektual

  • Apakah sepulang ibadah kita menjadi lebih terencana, bijak, dan ilmiah dalam mengambil keputusan hidup?

“Ibadah dan perjuangan tanpa ilmu hanya akan melahirkan kelelahan tanpa arah.”

3. Spiritual

Hijrah sebagai Bukti Tawakkal

Nabi Muhammad saw tetap tenang dalam gua Tsur meski dikepung bahaya, karena yakin:

“La tahzan, innallāha ma‘anā“

“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” QS At-Taubah: 40)

Refleksi Spiritual

  • Apakah ibadah haji/umrah membuat hati lebih tenang, penuh tawakkal, dan tidak mudah gelisah terhadap takdir?

“Hijrah spiritual adalah perpindahan dari bergantung pada makhluk menuju kepasrahan kepada Sang Khalik.”

4. Sosial

Hijrah sebagai Awal Masyarakat Ideal

Di Madinah, Nabi Muhammad saw mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, mendirikan Masjid Nabawi, dan menyusun Piagam Madinah.

Shalat Jumat pertama adalah penguatan keterikatan sosial dan nilai kebersamaan.

Refleksi Sosial:

  • Apakah kita menjadi pribadi yang lebih peduli, inklusif, dan hadir di tengah masyarakat dengan amal sosial?

“Hijrah sosial adalah meninggalkan keakuan menuju kepedulian.”

Hijrah sebagai Cermin Kehidupan

Setiap jamaah haji dan umrah sejatinya menempuh perjalanan hijrah spiritual. Dari rumah menuju Tanah Suci, dari rutinitas menuju kesadaran ilahi.

Maka ketika kembali, tantangan utamanya adalah: apakah kita benar-benar telah berhijrah?

“Hijrah bukan hanya dari Makkah ke Madinah, tapi dari kebiasaan lama menuju kehidupan yang diridhai Allah.”


Pusat Pengembangan Madrasah dan Sekolah Islam

Scroll to Top