Bersyukur Setiap Kondisi pada Perjalanan Ibadah Haji 2006

Perjalanan Ibadah Haji 2006 memberikan pengalaman berharga, khususnya bagi penulis. Kebijakan taraddudi di Muzdalifah, sistem pengelolaan katering yang baru, dan keputusan berjalan dari Mina ke Arafah.

Sebagai pengalaman pertama melaksanakan perjalanan Ibadah Haji dari Indonesia dan bertugas sebagai pembimbing, ketiga peristiwa tersebut memberikan pengalaman berharga. Bahkan sepatutnya harus selalu bersyukur, karena setiap peristiwa pasti ada hikmahnya.

Perjalanan Ibadah Haji Pertama dari Indonesia

Pada pelaksanaan Ibadah Haji, KBIH Al Manar selalu memilih pemberangkatan gelombang kedua. Dimana calon jamaah haji akan langsung terbang ke Makkah melalui Jeddah. Sedangkan gelombang pertama, calon jamaah haji terbang ke kota Madinah dulu. Setelah tinggal 8 hari, baru berangkat ke Makkah.

Tahun 2006 pun, calon jamaah haji KBIH Al Manar mendapat jadwal pemberangkatan gelombang kedua. Ada perbedaan mencolok dalam pelaksanaan ibadah haji adalah penetapan miqatnya yang melewati miqat Qarnul manazil. KBIH Al Manar menganjurkan Jamaah hajinya untuk berniat ihram di pesawat, setelah memakai kain ihram di asrama haji Bekasi. Walaupun ada sebagian ulama menetapkan miqatnya itu di Jeddah.

Biarkanlah perbedaan tersebut berjalan dengan tetap menjaga silaturahmi. Masing-masing memiliki dalil dan alasan yang jelas. Yang penting semuanya dalam rangka mendapatkan ridlo Allah swt.

Di Makkah, Pemondokan Jamaah Haji KBIH al Manar berada di sekita daerah Syib Amir dengan kualitas maktab yang baik. Jarak pemondokan dengan masjid haram tidak terlalu jauh. Para jamaah masih bisa berjalan kaki menuju masjidil haram.

Penetapan kamar berdasarkan kapasitas ruangan cukup teratur dan rapi, sehingga proses pengangkutan koper jamaah haji KBIH AL Manar bisa lebih cepat. Hal ini berpengaruh terhadap persiapan pelaksanaan Umroh. Dimana para jamaah bisa istirahat dulu mengumpulkan tenaga agar bugar kembali setelah mengalami perjalan pesawat yang sangat lama.

Pelaksanaan umroh jamaah Al Manar di malam hari agar cuaca tidak panas dan tidak dipotong oleh shalat wajib. Semua jamaah Al Manar Rancaekek mampu melaksanakan semuanya.

Kegiatan menunggu pelaksanaan haji adalah memperbanyak thawaf bagi yang kuat dan istirahat bagi jamaah al Manar yang kondisinya lemah.

Pengalaman Berjalan dari Mina ke Arafah

Pada tanggal 8 Dzulhijjah, Jamaah Haji KBIH Al Manar Rancaekek mulai berangkat ke Mina untuk mabit di Mina, sesuai dengan sunah Rasulullah agar bermabit di Mina pada hari Tarwiyah.

Pada Pagi hari tanggal 9 Dzul Hijjah, bis yang akan mengangkut jamaah haji Al Manar ke Arafah agak tersedat. Sehingga kekhawatiran mulai memuncak kalau siang hari tidak bisa sampai ke Arafah.

Penulis menawarkan dua opsi kepada jamaah haji Al Manar, yaitu mau nunggu bis walaupun ada rasa takut kalau terlambat datang ke Arafah. Opsi kedua, Calon haji KBIH AL Manar mengambil keputusan dengan berjalan kaki menuju Arafah. Ternyata mayoritas memilih untuk berjalan kaki. Diperkirakan sekitar 12 kilo pada jamaah al Manar Rancaekek berjalan kaki.

Suatu perjalanan yang tidak terbayangkan kalo dilakukan di Indonesia. Dengan semangat ibadah, para jamaah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk berjalan sekitar 12 KM di tengah terik matahari. Bahkan jamaah yang paling senior pun mampu melakukannya.

Hal ini membuktikan bahwa kekuatan Allah SWT selalu bersama orang-orang yang memiliki niat mencari ridhonya.

Proses Perubahan Sistem Pengelolaan Katering

Setibanya di Arafah, Ada peristiwa yang memprihatinkan. Sejak kemarin, semua jamaah haji Indonesia tidak mendapatkan makan. Hal ini disebabkan pengiriman catering makanan terlambat.

Biasanya, katering jamaah haji Indonesia disiapkan oleh yayasan yang mengelola maktabnya. Mereka menyiapkan dapur umum di setiap maktab sehingga distribusi makanan bisa cepat dan tidak terganggu oleh macet di jalan.

Dengan perubahan sistem pengelolaan katering yang dibuat di luar Arafah mengalami gangguan saat pengantar ke Arafah. Karena saat puncak ibadah haji di Arafah, dipastikan kondisi jalan sangat macet, dipenuhi oleh lautan manusia.

Walaupun begitu, Jamaah Haji Al Manar Rancaekek patut bersyukur, karena sejak kemarin masih berada di Mina dan mendapatkan makanan. Sehingga tidak mengalami kelaparan seperti jamaah haji yang lainnya.

Kebijakan Taraddudi di Muzdalifah

Kebijakan Taraddudi adalah proses pemindahan jamaah dari Muzdalifah ke Mina secara bergantian. Setelah waktu wukuf di Arafah, Jamaah Indonesia diantara ke lapangan terbuka di Muzdalifah. Setelah melewati tengah malam, jamaah diantarkan ke tenda-tenda di Mina secara bergantian.

Pada saat di Muzdalifah, Cuaca sangat dingin. Untuk mengatasinya, Jamaah Al Manar yang perempuan berada di tengah lingkaran di lindungi bapak-bapak yang tidur mengelilingi jamaah haji perempuan.

Ada peristiwa yang memilukan di Muzdalifah, dimana para jamaah Indonesia yang masih memakai kain ihram berebutan untuk mendapatkan nasi box. Menurut penulis, kejadian tersebut bisa dimaklumi karena mereka merasa lapar dan tidak mendapatkan makanan sejak kemarin.

Pelaksanaan jumroh dan thawaf ifadah serta penyembelihan hewan qurban bisa terlaksana dengan lancar. Kerja sama anggota jamaah haji KBIH Al Manar sangat solid, sehingga rintangan dan gangguan bisa teratasi dengan cepat dan penuh kesabaran.

Kunci Kelancaran Proses Pembimbingan

Akhirnya, pelaksanaan haji tahun 2006 berjalan sesuai dengan rencana. Tidak dapat dipungkiri bahwa dukungan jamaah haji yang pernah melaksanakan ibadah haji memiliki pengaruh yang sangat kuat, terutama dalam memotivasi jamaah-jamaah al Manar yang lainnya.

Rasa syukur dan terima kasih kepada semua jamaah haji Al Manar tahun 2006 yang telah bekerjasama dan kompak mendukung dan membantu pembimbing agar bebannya menjadi ringan.

Tulisan ini pernah tayang di kbihalmanar.blogspot.com

Scroll to Top