KBIHU Al Manar.Setiap musim haji selalu ada kisah yang menggugah hati, memperlihatkan bahwa ibadah haji bukan semata urusan administratif atau logistik, tapi sepenuhnya adalah urusan Allah SWT. Yakinlah bahwa Jamaah Haji itu adalah tamu Allah SWT.
Di balik segala persiapan, biaya yang lunas, koper yang terkirim, bahkan tiket yang sudah di tangan. Semuanya bisa berubah dalam sekejap bila Allah belum berkehendak.
Tulisan ini hadir bukan sekadar berbagi cerita, tetapi sebagai pengingat bagi kita semua: haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Baitullah, tetapi juga perjalanan batin menuju kepasrahan dan keyakinan.
Kisah ini terjadi di Jamaah Haji 2025 KBIHU Al Manar Rancaekek, sebuah kisah nyata yang memperlihatkan bahwa ketika manusia sampai di ujung upaya, di sanalah kuasa Allah bekerja.
Jamaah Haji adalah Tamu Allah SWT

Hari itu, Kamis dini hari, 29 Mei 2025, kabar tak terduga datang dari Kementerian Agama Kabupaten Bandung: visa atas nama Ibu Siti Syamsiah tidak keluar.
Informasi itu datang hanya beberapa jam sebelum jamaah haji KBIHU Al Manar memulai perjalanan suci mereka.
Diskusi di rumah ketua KBIHU berlangsung dengan tegang. Keputusan sulit pun harus diambil. Kami, sebagai tim pembimbing, menyampaikan kabar itu kepada keluarga Bapak Ginanjar, suami dari Ibu Siti.
Namun di luar dugaan, mereka menyikapinya dengan penuh kebesaran hati. Ibu Siti tetap diajak mengikuti seluruh rangkaian keberangkatan, mulai dari perpisahan keluarga di Rest Area 149, pelepasan di Lanud Sulaeman, hingga masuk ke asrama haji Kertajati, Indramayu.
Ada satu hal yang tak kalah penting: koper besar milik Ibu Siti sudah terkirim sehari sebelumnya dan kini berada di gudang koper asrama.
Semua ini seolah menjadi bukti bahwa segalanya telah siap… kecuali satu: izin dari Allah SWT.
Perjalanan menuju asrama pun dihiasi kepasrahan.
Di Rumah Makan Cikedung, dalam perjalanan menuju Indramayu, Bapak dan Ibu Ginanjar duduk bersama Ketua KBIHU dan pembimbing.
Dalam diskusi singkat itu, mereka mulai menyusun strategi untuk haji tahun depan. Sambil menenangkan hati, sambil menata ulang harapan.
Sesampainya di asrama, koper pun dibuka. Barang-barang milik Ibu Siti dipisahkan dan diseleksi, mana yang bisa dibawa oleh Bapak Ginanjar, dan mana yang harus ditinggal.
Proses ini dilakukan tentunya dengan menahan emosi dan menjaga hati agar tetap lapang.
Pesan menyentuh dari Ibu Syamsiah di Grup WA: “Titip suami saya”. Sebagai bukti ketegaran hati.
Hingga tiba saatnya jamaah naik bus besar menuju Bandara Kertajati. Saat itulah, sebuah telepon masuk ke hp Bapak Ginanjar. Ibu Siti mengabari:
“Saya tidak jadi pulang… katanya saya harus tinggal di asrama, saya akan berangkat besok dengan Kloter KJT 28.”
Sebuah harapan kecil kembali menyala di tengah abu kekecewaan. Namun, gudang koper sudah bersiap menyerahkan koper Ibu Siti untuk dibawa pulang.
Lagi-lagi, KBIHU harus sigap. Kami segera mengonfirmasi kepada pihak asrama, dan akhirnya keputusan diambil: Ibu Siti tetap tinggal di asrama, bersabar dan menunggu mukjizat.
Mukjizat itu datang.
Saat rombongan utama KBIHU Al Manar sudah tiba di Bandara Jeddah, kabar gembira muncul: visa Ibu Siti telah keluar. Ia akan menyusul ke tanah suci bersama Kloter KJT 28, Rombongan 11.
Allah SWT telah mengundangnya menjadi tamu-Nya, dengan cara yang tidak diduga siapa pun.
Pelajaran Penting Arti Kepasrahan Kepada Allah SWT
Kisah ini bukan hanya tentang keterlambatan visa atau perubahan jadwal. Ini adalah pelajaran besar tentang makna tawakkal, tentang iman yang tetap menyala bahkan saat harapan seolah padam.
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita renungkan:
- Haji Adalah Urusan Allah SWT. Walaupun semua proses administrasi sudah rampung, koper sudah di asrama, bahkan rombongan sudah terbang, semua belum menjamin bahwa seseorang menjadi tamu Allah. Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Mekkah. Maka jangan pernah merasa aman tanpa doa, dan jangan pernah berhenti berharap pada Allah.
- Kepasrahan Adalah Kunci Dibukanya Pintu Keajaiban. Saat semua jalan tampak buntu, dan hanya ada sisa 1% harapan secara manusia, justru di situlah 99% kekuasaan Allah bekerja. Maka tugas kita bukan menyelesaikan segalanya, tapi menyerahkan semuanya dengan ikhtiar dan tawakkal.
- Doa Adalah Senjata Pamungkas. Takdir bisa berubah dengan doa. Maka jangan pernah remehkan kekuatan sebuah permohonan yang keluar dari hati yang ikhlas dan pasrah. Bukan karena kita hebat, tapi karena Allah Maha Mengatur.
Pesan Untuk Jamaah dan Calon Jamaah Haji
Kisah Ibu Siti Syamsiah adalah kisah kita semua. Sebuah cermin yang mengingatkan bahwa haji bukan semata daftar tunggu, bukan sebatas visa, koper, atau jadwal penerbangan.
Haji adalah undangan dari langit, dan hanya Allah SWT yang memegang kuasa penuh atas siapa yang akan memenuhi panggilan itu. Ada pesan penting dari kisah ini.
- Bagi para calon jamaah, semoga kisah ini menjadi pelembut hati dan penguat semangat.
- Bagi para pembimbing, semoga ini jadi pelajaran tentang pentingnya empati dan kesiapan mental.
- Dan bagi semua yang sedang menanti panggilan ke tanah suci, jangan lelah berharap, jangan lelah berdoa. Karena bisa jadi… di titik terendah kita berserah, justru di situlah Allah turunkan kuasa-Nya.
Tulisan ini bagian dari CALIK atau catatan cilik sebagai refleksi perjalanan ibadah haji. Ingin mengetahui makna Calik, silahkan buka artikel: CALIK KBIHU Al Manar: Satu Catatan penuh hikmah –>
Mau baca artikel CALIK lainnya tentang Kisah perjuangan dua ibu di tenda Mina –>>

