Antara Sedih dan Ridho, Melihat Kondisi Jamaah Haji

KBIHU Al Manar. Perasaan sedih melihat kondisi jamaah dan harus menguatkan Ridho terhadap takdir Allah SWT.

Tulisan ini mencoba menggambarkan dari sudut pembimbing melihat situasi yang tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali sedih dan harus ridho dengan takdir Allah SWT.

Sedih dan Ridho Terhadap Takdir Allah SWT

Perjalanan Jeddah ke Mekkah termasuk perjalanan singkat dibandingkan dengan perjanjian dari Bandara Kertajati Indramayu ke Bandara Jeddah.

Kenyataannya, jamaah haji lebih lama duduk di bis untuk mendapatkan pemondokan atau hotel dibandingkan duduk di pesawat dari Kertajati menuju Jeddah.

Hal ini disebabkan adanya 8 syarikah yang melayani jamaah kloter KJT 27. Perbedaan tersebut menyebabkan satu bis harus mengantarkan ke berbagai hotel sesuai dengan syarikah yang ada di kartu nama. Kartu nama yang memiliki barcode yang terhubung dengan Haji Pintar.

Satu per satu jamaah turun menuju hotel sesuai syarikah nya. Sisanya tetap di bus menuju hotel yang sesuai dengan syarikahnya.

Sedih melihat istri turun duluan, sedangkan suaminya tetap di bus karena beda syarikah dan beda hotel.

Juga melihat ibu yang turun duluan, sedangkan anaknya yang bertugas mendampinginya tetap di bus karena beda hotel.

Fenomena seperti ini sangat menyedikan dan menyesakkan di dada. Semua jamaah berharap di momen ibadah haji ini bisa bersama-sama dengan pasangannya, atau anak yang hadir mendampingi ibunya. Tapi kenyataannya tidak sesuai harapan.

Jamaah haji dituntut untuk Ridho dengan takdir seperti ini. Karena takdir itu sesuatu yang tidak bisa kita berbuat banyak, hanya menerima dengan Ikhlas dan Ridho yang bisa dilakukan.

Walaupun sedih dan Ridho berkecamuk, tapi ada hiburan karena jamaah haji terutama KBIHU Al Manar sudah melakukan simulasi kemungkinan hal tersebut terjadi.

Artinya jamaah sudah dipersiapkan untuk menghadapi kondisi seperti ini.

Semoga kondisi terpisah seperti ini menyakinkan jamaah haji bahwa kita hanya berharap kepada Allah SWT, bukan kepada pasangan atau anak kita. Dan yakin bahwa jamaah haji adalah Tamu Allah SWT, pasti Allah SWT akan bertanggungjawab dan menjamu tamunya.


Lainnya

Strategi Pengembangan Pendidikan Madrasah dan Sekolah Islam

Scroll to Top