Pasar Ka'kiyah Mekkah Pusat Belanja Jamaah Haji Indonesia

Belanja di Pasar Ka’kiyah Mekkah: Kegiatan Jamaah Haji Sarat Spiritual dan Sosial

KBIHU Al Manar. Kegiatan ketiga jamaah haji KBIHU Al Manar adalah belanja di Pasar Ka’kiyah Mekkah.

Menyiapkan oleh-oleh haji menjadi perhatian semua jamaah haji di tanah suci sebagai bagian dari berbagi kebahagiaan dengan orang lain

Belanja di Pasar Ka’kiyah Mekkah

Info kegiatan belanja ke pasar Ka’kiyah telah tersebar saat pulang dari Ziarah kota Jeddah.

Sabtu malam, bada Magrib, 21 Juni 2025, jamaah Haji KBIHU Al Manar telah kumpul di depan hotel 704, Hotel Al Wahdah Khoir.

Muncul 2 bis yang terbagi dua, satu bis khusus jamaah yang berada di sektor 7. Bis kedua tersedia kursi kosong untuk jamaah haji yang tinggal di hotel 609 sektor 6 di hotel Addiyar Al Aroubah.

Sekitar Jam 19.50, bis meninggalkan hotel 704. Hotel 1 berangkat menuju hotel 609. Sedangkan bis 2 langsung menuju Pasar Ka’kiyah.

Jarak hotel 709 dengan pasar Ka’kiyah Mekkah sekitar 10 KM, bis 1 tiba di pasar Ka’kiyah sekitar jam 20.12. Yakni perjalanan sekitar 23 menit.

1. Sejarah Pasar Ka’kiyah Mekkah

Pasar Al Ka’kiyah, yang terletak di kawasan barat kota Mekkah, telah menjadi pusat perdagangan rakyat sejak beberapa dekade lalu.

Dalam catatan sejarah setempat, nama “Ka’kiyah” diyakini berasal dari salah satu nama kabilah atau tempat tinggal di kawasan tersebut. Seiring berkembangnya Mekkah, pasar ini tumbuh dari area lokal menjadi pusat niaga yang ramai, terutama selama musim haji.

2. Tradisi di Pasar Ka’kiyah Mekkah

Keunikan pasar ini terletak pada keberagaman barang dagangan yang ditawarkan dengan harga lebih terjangkau dibandingkan pusat perbelanjaan besar lainnya. Jamaah asal Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sangat akrab dengan suasana pasar ini.

Namun, satu perubahan mencolok yang disayangkan adalah memudarnya tradisi penutupan toko saat waktu shalat tiba. Dahulu, ketika azan berkumandang, seluruh aktivitas dagang berhenti.

Kini, sebagian toko di Pasar Al Ka’kiyah tetap buka meskipun azan telah berkumandang. Ada yang tetap melayani pelanggan, ada pula yang hanya menarik tirai separuh sambil menunggu giliran shalat. Fenomena ini menjadi cermin pergeseran nilai spiritual dalam aktivitas ekonomi di tanah suci.

Refleksi Belanja Oleh-oleh Haji dan Makna Spiritual dan Sosial

Kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan atau mencari barang murah.

Dalam perspektif Islam, belanja di tanah suci dapat dimaknai sebagai amal bernilai jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar.

Mari kita renungkan melalui pendekatan 4AL: Ritual, Intelektual, Spiritual, dan Sosial:

1. Ritual

Niat membelikan oleh-oleh untuk keluarga dapat menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah. Membelikan oleh-oleh sebagai bentuk kebaikan dan kasih sayang kepada keluarga karena Allah.

2. Intelektual

Jamaah belajar mengenal harga, budaya, dan teknik tawar-menawar di negeri orang. Ini menjadi latihan berpikir kritis, manajemen waktu, dan pengendalian diri agar tidak boros.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا • إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.”(QS. Al-Isrā’: 26–27)

Belanja di pasar Ka’kiyah juga menjadi ajang pembelajaran manajemen keuangan, berpikir kritis, dan menahan diri dari sifat konsumtif berlebihan.

3. Spiritual

Pasar adalah tempat ujian. Di tengah hiruk-pikuk dunia, jamaah diajak tetap mengingat Allah. Fenomena toko yang tetap buka saat azan menjadi cermin tantangan spiritual zaman ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ، وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ

“Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan siapa yang meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama.”(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Īmān)

Fenomena toko yang tetap buka saat azan menjadi pengingat bahwa spiritualitas dan komitmen ibadah harus tetap dijaga, bahkan di tengah urusan duniawi seperti belanja.

4. Sosial

Oleh-oleh bukan sekadar barang. Ia adalah jembatan kasih sayang antara jamaah dan keluarga. Sebotol minyak wangi atau tasbih bisa menjadi penguat ikatan emosional dan pengingat bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk kecil tapi bermakna.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang Muslim.“(HR. Thabrānī dalam al-Mu’jam al-Kabīr, hasan menurut al-Albānī)

Oleh-oleh dari tanah suci bisa menjadi perantara cinta dan kebahagiaan, menjadi bentuk perhatian dan doa bagi keluarga dan orang-orang yang menanti di rumah.

Kegiatan belanja jamaah haji KBIHU Al Manar ke Pasar Ka’kiyah bukan hanya aktivitas fisik, tapi bagian dari perjalanan spiritual.

Ia mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara niat dan tindakan, antara diri dan orang lain.

Semoga oleh-oleh yang dibawa bukan hanya barang, tapi juga keberkahan, cinta, dan jejak haji yang mabrur.

Lihat Video Kegiatan


Selengkapnya

Selengkapnya

Pusat Pengembangan Pendidikan Madrasah dan Sekolah Islam

Scroll to Top