KBIHU Al Manar. Jamaah KBIHU Al Manar ziarah ke Gua Hira dan Masjid Hudaibiyah, mengenang turunnya wahyu dan perjanjian bersejarah dalam dakwah Nabi Muhammad SAW.
Kunjungan ke dua tempat itu merupakan Program ziarah keempat di kota Mekkah yang dirancang oleh KBIHU Al Manar
Ziarah Hudaibiyah dan Museum Wahyu: Belajar dari Sejarah
Senin, 23 Juni 2025, Jamaah Haji KBIHU Al Manar telah berkumpul di depan hotel 704 untuk bersiap naik bis.
Bis dua sudah siap, jamaah mulai memenuhi bis dua dulu, sedangkan jamaah yang lain menunggu bis satu yang menjemput jamaah yang berada di hotel 609.
Setelah datang bis satu, dan jamaah sudah masuk ke dalam Masjid, lalu jamaah mulai berangkat menuju museum Wahyu di kaki gunung atau Jabal Nur.
1. Museum Wahyu
Jamaah Haji tiba di museum Wahyu atau Ma’rad Wahyu jam 07.27.
Museum menyajikan sejarah Nabi Adam dan Ulul Azmi yaitu Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad saw.
Selesai mengikuti rangkaian film sejarah nabi termasuk turunnya Wahyu di gua Hira, jamaah haji dapat berphoto di reflika gua Hira.
Sebelum pintu keluar, jamaah haji dapat melihat Jabal Nur atau Hira di balik kaca besar. Terlihat rute pejalan kaki mulai dari bawah sampai puncak gunung Nur.
Selesai melihat Jabal Nur dari dekat, Jamaah masuk ruangan pertokoan penyedia cinderamata gua Hira.
Di parkiran bis, jamaah menikmati nasi box khas Indonesia sebelum melanjutkan ke masjid Hudaibiyah untuk melihat tempat perjanjian Hudaibiyah.
2. Masjid Hudaibiyah Museum
Jam 09.45, bis mulai bergerak menuju Masjid Hudaibiyah. Diperkirakan perjalanan membutuhkan waktu sekitar 45 menit.
Tiba di masjid Hudaibiyah jam 10.30. sekarang ini, Hudaibiyah menjadi tempat miqat yang mau melaksanakan umroh.
Hudaibiyah memiliki sejarah penting sebagai tempat perjanjian umat Islam dengan Kaum Quraisy Mekkah.
Tidak lebih dari 45 menit, Bis bergerak lagi untuk kembali ke hotel di sektor 7 dan sektor 6.
|Baca: Hudaibiyah: Jejak Sejarah Perjanjian Suci dan Refleksi Haji Mabrur
Refleksi dari Ziarah Hudaibiyah dan Museum Wahyu
1. Ritual
Ziarah ke Museum Wahyu dan Masjid Hudaibiyah bukan sekadar perjalanan sejarah, melainkan menjadi momen internalisasi nilai-nilai ibadah.
Di Jabal Nur, jamaah mengenang turunnya wahyu pertama sebagai titik awal risalah Islam. Ini menguatkan niat untuk lebih mencintai Al-Qur’an dan menjaga shalat sebagai ritual utama umat Islam.
Di Masjid Hudaibiyah, jamaah menyadari pentingnya niat ihram dan miqat sebagai batasan ritual yang ditetapkan Allah. Berihram dari Hudaibiyah menambah makna perjalanan spiritual yang terstruktur.
2. Intelektual
Kedua tempat ini adalah titik sejarah penting yang memperkaya wawasan jamaah:
Museum Wahyu memperkenalkan kronologi turunnya wahyu, kondisi Nabi saat menerima wahyu, hingga bagaimana wahyu dibukukan menjadi Al-Qur’an.
Hudaibiyah mengajarkan diplomasi Nabi SAW dalam menghadapi ketegangan, bagaimana beliau menyusun strategi damai demi kemaslahatan umat, yang kini menjadi pelajaran penting dalam kepemimpinan dan negosiasi.
3. Spiritual
Keduanya memperdalam dimensi ketuhanan jamaah:
Jabal Nur adalah saksi bisu munajat dan kontemplasi Rasulullah. Ketika jamaah menatap ke atas, mereka diajak merenung: Sudahkah kita mengkhususkan waktu untuk berdiam bersama Tuhan?
Di Hudaibiyah, semangat tawakkal dan keikhlasan Nabi SAW menerima syarat-syarat yang tampak merugikan menjadi pengingat bahwa tidak semua keputusan Allah bisa kita pahami saat itu, tapi akan menjadi kemenangan di masa depan.
4. Sosial
Ziarah ini juga memperkuat nilai sosial dalam Islam:
Museum Wahyu mempertemukan jamaah dari berbagai negara yang sama-sama ingin memahami awal mula Islam.
Ada semangat ukhuwah yang tumbuh dari interaksi.
Hudaibiyah mengajarkan bahwa damai dan perjanjian lebih mulia daripada konflik. Nabi rela menunda umrah demi menghindari pertumpahan darah. Ini menjadi dasar penting dalam membangun harmoni dan toleransi dalam kehidupan sosial.
Ziarah ke Museum Wahyu dan Masjid Hudaibiyah bukan hanya menyentuh sejarah, tetapi juga memperbarui kesadaran akan pentingnya menjaga kesucian ritual, kekuatan ilmu, kedalaman iman, dan keharmonisan sosial.
Semoga pengalaman ini menginspirasi jamaah untuk meneladani Rasulullah dalam setiap sisi kehidupan, dari wahyu yang pertama hingga perjanjian yang mulia.
Berita Terbaru
- Perjalanan Umroh KBIHU Al Manar September 2026
- Pelatihan Manasik Umroh KBIHU Al Manar di Hotel Katulistiwa Jatinangor

- Integrasi Digital Haji Indonesia–Arab Saudi
- Standar Dapur Haji di Makkah Dijaga Ketat demi Kenyamanan Jemaah
- Diklat PPIH Semi Militer Dinilai Humanis, Wamenhaj Tekankan Kekompakan dan Haji Ramah Perempuan
- Pembekalan fisik dan mental jadi kunci, Petugas haji diminta siap hadapi dinamika layanan jemaah haji
Catatan Cilik
- CALIK KBIHU Al Manar Rancaekek: Merenungi Perjalanan Suci, Satu Catatan Cilik Penuh Hikmah
- Bus Shalawat 19: Jalan Hati Jamaah Al Manar dari Hotel ke Masjidil Haram
- Kisah Inspiratif Jamaah Haji: Kemandirian dan Keberanian Bertanya
- Kisah Nyata di Mina: Dua Ibu, Satu Malam, dan Kuasa Allah yang Menyatukan


